Kala Hampir Satu Purnama
Kala itu hampir satu purnama menyentuh pertemuan kita. Diantara tanah dan air yang bersua menyatu, tak jauh dari tanah kelahiranku. Aku tak pernah menduga, dalam satu tujuanku akan kutemukan sesuatu yang lebih dari satu. Saat pertama kali aku melihat keindahan dunia yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. dan kamu sebagai sosok biasa yang berucap memanduku. Kamu hanya apa yang kulihat sekejap, tak lebih dari itu. Adakah butiran pasir mengingat kita?, saat bunga seroja berjatuhan dari letaknya di tangkai. Ah mungkin tidak, dan kita juga tak pernah berniat mengingatnya. Putaran matahari tak pernah lelah dan berhenti, dan bintang-bintang tak pernah usai menampakkan dirinya di malam-malam kita berdiri. Kita sosok biasa, yang saat itu berdiri meresapi belaian bayu di kala gelap, menghitung seberapa banyak bintang beralih, mendengar senandung air beriak yang menerpa, dan kadang terdiam menikmati renungan kesendirian. Kita sosok biasa yang sudah saling men...